Oct 22, 2009

Perjalanan Panjang Ari Lasso - Part 1

Ketika kecil, ia dikenal
sebagai anak badung,
pintar, dan tergila-gila
pada sepak bola. Meski
hanya bisa main gitar
sekadarnya, ternyata dia
diam-diam menyimpan
obsesi jadi anak band.
Awal Juni lalu, matahari
masih membakar bumi
ketika telepon genggam
pria itu berbunyi. Meski
sangat capai setelah dua
hari berturut-turut naik
panggung di wilayah
Jabodetabek sampai
tengah malam, ia tetap
bergegas berangkat dari
rumahnya di Kawasan
Bintaro, Tangerang,
menuju Ancol, Jakarta
Utara. Malam itu ia akan
tampil bersama band Naif
dan Element.
Setiba di Taman Impian
Jaya Ancol, pria berambut
gondrong itu langsung
menuju ke sebuah
panggung megah
setengah jadi yang
dipenuhi seperangkat alat
musik bervoltase ribuan
watt. Ia membaur dengan
kru dan teknisi band-nya
yang tengah sibuk
menyetel dan mengoreksi
sound system. Di tengah
hiruk pikuk yang
memekakkan telinga, ia
berusaha memasang
telinga baik-baik. Setiap
kali mendengar nada-nada
yang kurang pas, ia
langsung meminta krunya
membetulkan atau
menyetel kembali. Baru
satu jam kemudian ia
merasa puas.
Begitulah gambaran
jadwal dan kegiatan Ari
Lasso belakangan ini.
Minggu berikutnya, ia
harus terbang ke
Kalimantan untuk tampil di
beberapa tempat di
Samarinda dan
Balikpapan. Sepulang dari
situ, ia langsung ke
Surabaya untuk
mengadakan serangkaian
show. Hari-hari yang
sangat melelahkan, tapi
sekaligus
membahagiakannya.
Menengok ke belakang,
setidaknya hingga tujuh
tahun lalu, kesibukan dan
kebahagiaan semacam itu
rasanya mustahil
dirasakan ayah tiga anak
ini. Selain dicopot sebagai
vokalis utama Dewa 19,
band yang membesarkan
namanya, ia pun terpuruk
dalam kegelapan yang
pekat. Terjerat putaw
dengan parah --bahkan ia
pernah berusaha ‘mencari
mati’ dengan
menggunakannya secara
over dosis-- dan jatuh
miskin karena semua
uangnya ludes untuk
membeli barang-barang
haram itu. Kedua orang
tuanya sudah angkat
tangan menghadapi
kelakuan anak bungsu
mereka itu.
Ternyata, Tuhan masih
mengasihinya. Buktinya,
sampai saat ini ia masih
diberi kesempatan
menyaksikan indahnya
matahari terbit dan
terbenam. Ia pun
merangkak lagi dari nol,
selangkah demi
selangkah. Mencoba
bersolo karier di tahun
2001, dewi keberuntungan
ternyata berpihak pada
pria kelahiran Madiun, 17
Januari 1973, itu.
Album Sendiri Dulu (2002)
, yang diprediksi hanya
terjual 60.000 keping,
ternyata laku keras hingga
mencapai 400.000
keping. Wajarlah kalau
belum lagi lima tahun
bersolo karier, ia sudah
mampu memiliki rumah
mewah berlantai dua,
lengkap dengan kolam
renang, beberapa mobil
keluaran terbaru, serta
sejumlah tabungan dan
deposito.
Tidak hanya itu. Lewat
album-album cintanya,
berbagai penghargaan
musik juga berhasil
diraihnya sejak album
solo pertamanya dilempar
ke pasaran. Antara lain,
sebagai penyanyi solo
terbaik versi AMI-Sharp
2002, Anugerah Planet
Muzik Singpura 2005,
penghargaan platinum
dari perusahaan rekaman
Aquarius Musikindo 2004,
dan masih banyak lagi.
Tahun ini ia juga diangkat
sebagai duta budaya oleh
Wali Kota Surabaya.
‘SI ENDUT’ YANG GILA
BOLA
Ari Bernardus Lasso
adalah putra bungsu dari
lima bersaudara pasangan
Bartholomeus Bernard
Lasso dan Srie Noerhida.
Saat Srie mengandung
Ari, Bernard Lasso masih
menjabat sebagai Asisten
Perum Perhutani
Kabupaten Ngawi, Jawa
Timur. Warga sekitar
biasa memanggilnya Pak
Sinder. Ia membawahi
sekitar 40-60 orang
pegawai, termasuk lima
resort polisi hutan yang
harus mengamankan
sekitar 600-700 hektar
hutan. Jarak dari
rumahnya --di Kompleks
Perhutani Banaran
(Sragen)-- ke kan–tor
sekitar 30 km, sementara
dari Madiun jaraknya
sekitar 50 km. Tak lama
sebelum Ari lahir, Bernard
diangkat sebagai Ajun
Administratur Perum di
Saradan, sehingga mereka
sekeluarga pun pindah ke
Saradan, sekitar 40
kilometer dari Madiun.
Bernard mengenang anak
bungsunya itu sebagai
anak yang sangat aktif dan
lucu, sehingga hampir
semua orang
menyukainya. Empat
kakaknya semua
berambut keriting, hanya
Ari yang berambut lurus.
Selain itu, bentuk
kepalanya pun ‘istimewa’.
”Ari tidak pede dengan
rambut pendek, karena
bentuk kepalanya
peyang,” kata Vitta Dessy,
istrinya, sambil tertawa.
Konon, kalau rambutnya
dipotong cepak, bagian
belakang kepalanya akan
terlihat rata. Itu sebabnya,
sejak remaja ia tidak
pernah memendekkan
rambutnya. Ia baru
memotong rambutnya
ketika menikah.
Menurut Bernard,
dibanding keempat
anaknya, Ari memang
paling nakal dan kurang
mengerti etika. Padahal,
keempat kakaknya
tergolong anak manis dan
sangat patuh. ”Sejak kecil
dia memang ndugal, tidak
paham sopan santun, dan
kurang hormat terhadap
orang tua. Dia itu sak
karepe dhewe, semaunya
sendiri,” kenang Bernard,
tertawa. Di mata kakak-
kakaknya, Ari juga dikenal
sangat menjengkelkan,
karena tukang ngeyel.
Ari merasa, masa kanak-
kanaknya sangat indah.
Meski ayahnya
merupakan orang nomor
satu di kompleks
perumahan dinas itu, ia
dan kakak-kakaknya
dibebaskan bermain
dengan siapa saja,
termasuk dengan anak-
anak kampung di sekitar
situ. Ia dibebaskan main
becek-becekan di sawah,
mandi di kali, main sepak
bola, mencari burung di
hutan, dan ikut
menggembalakan
kambing atau kerbau milik
teman-temannya. Kalau
sedang tidak sibuk,
ayahnya menemani Ari
bermain layang-layang di
lapangan. ”Aslinya saya
itu wong ndeso…,” ujar
Ari, tertawa.
Sejak mulai masuk SD (di
SDN Banaran) tubuhnya
juga jadi makin tambun,
sehingga ia dijuluki ‘Si
Endut’ oleh kakak-
kakaknya. Di kelas 2 SD
saja, beratnya sudah 35
kg. Dan, makin subur lagi
setelah ia menjalani sunat
(khitan) pada awal SMP.
Tapi, berbeda dari
umumnya anak-anak
bertubuh subur yang jadi
malas bergerak dan
doyan tidur, Ari justru
tergolong sangat aktif. Ia
juga berotak cemerlang.
”Sejak masih kanak-kanak,
kecerdasan Ari memang
sudah menonjol. Terlihat
dari cara bicara,
kreativitasnya, atau sikap
kritisnya,” kenang
Bernard, penuh
kebanggaan. ”Sejak mulai
bisa membaca, ia menjadi
maniak buku. Kalau diberi
uang, ia jarang membeli
mainan, yang dibelinya
selalu buku.”
Buku-buku koleksinya
memang bertumpuk,
meski bacaan favoritnya
saat itu baru sebatas buku
cerita dan komik, seperti
Rin Tin Tin, petualangan
Dr. Karl May, Shatting
Bulls, Apache, Pendekar
dari Bukit Manoreh, Sabuk
Intan, dan sebagainya.
Saat duduk di kelas 4 SD,
ia bahkan sudah punya
perpustakaan sendiri,
yang buku-bukunya ia
sewakan kepada teman-
temannya. Hasilnya
dipakai lagi untuk
menambah koleksi buku
dan untuk jajan.
Ari juga sangat fasih bila
diajak bicara tentang
sepak bola. ”Dia betul-
betul hafal semua jadwal
pertandingan liga di luar
negeri, termasuk nama-
nama pemainnya.
Rupanya, diam-diam dia
rajin membaca koran-
koran saya,” kenang
Bernard, tertawa.
Gara-gara ‘gila bola’ itu
pula, Ari yang baru duduk
di kelas 3 SD mengajak
teman-teman di kompleks
rumahnya mendirikan
klub sepak bola Perhutani
yang diberi nama
Persatuan Sepakbola Bayu
Rimba. Sebagai motor
klub tersebut, Ari rela
bekerja keras untuk
menghimpun dana. Ia giat
mengajak anak-anak
pejabat Perhutani untuk
bergabung sebagai
pemain sekaligus
penyandang dana.
Ari sendiri selalu tampil
sebagai sponsor utama,
yang siap menutup
kekurangan biaya
operasional klub tersebut.
Berbeda dari teman-
teman seusianya yang
mendapatkan uang dari
orang tua, Ari justru
mengumpulkan dana dari
hasil ‘bisnisnya’ sendiri.
Baik dari hasil penyewaan
buku-buku
perpustakaannya, juga
dari ‘gajinya’. Ia memang
selalu mendapat ‘gaji’ bila
membantu ibunya
mengurus dagangan.
Hebatnya, meski banyak
kesibukan, di sekolah ia
tetap pelanggan peringkat
pertama.

No comments:

Post a Comment