Oct 22, 2009

Perjalanan Panjang Ari Lasso - Part 5

BANGKIT DARI TITIK
NOL
Trauma berkepanjangan
pada diri istrinya, sempat
membuat Ari nyaris gagal
menjalani rehabilitasi
ketergantungannya pada
putaw.
Cerita cinta Ari Lasso dan
Vitta Dessy Catur
Purnama bagaikan kisah
dalam novel. Ada
keindahan, ketegangan,
kecurigaan, kesangsian,
tawa, juga tangis.
Kadang-kadang terkesan
dramatis, tragis, dan tak
jarang sangat kekanak-
kanakan. Vitta memang
memiliki trauma
tersendiri, yang
membuatnya sulit
percaya pada pria mana
pun. Kondisi inilah yang
nyaris menggagalkan
upaya penyembuhan Ari
dari ketergantungannya
pada putaw.
CINTA DALAM SELITER ES
KRIM
Peristiwa itu terjadi di
bulan April 1995. Sebagai
mahasiswa baru di
Fakultas Ekonomi
Universitas Airlangga,
Surabaya, pagi itu Vitta
kebingungan mencari
tempat pembayaran uang
kuliahnya. Di saat
celingak-celinguk di depan
Kantor Bagian
Administrasi, tiba-tiba ia
didatangi seorang
pemuda gondrong yang
mengaku sebagai
seniornya di FE. Dengan
ramah pemuda itu
mengantarnya ke tempat
tujuan. Namun, setelah
usai membayar, pemuda
itu tetap membuntutinya.
Dua hari setelah itu,
pemuda gondrong itu
tahu-tahu sudah muncul
di rumahnya, di daerah
Darmo Permai,
mengenakan T-shirt
berwarna hijau butut dan
bercelana jeans kumal.
Nekat, memang. Selain
kedua orang tua Vitta
berprofesi sebagai dosen,
saat itu Vitta juga sudah
punya kekasih yang
tengah belajar di Australia.
Kalau sedang pulang ke
tanah air, sang kekasih
selalu datang ke rumah
Vitta mengendarai mobil
mewah, sementara
pemuda itu hanya
mengendarai sepeda
motor Honda GL-Pro.
”Motor itu sampai
sekarang masih ada dan
tetap dirawat dengan baik
di Surabaya. Benda
kenangan yang tidak
mungkin akan kami
lupakan...,” papar Vitta,
tersenyum.
Lucunya, meski nama
Dewa 19 sudah sangat
terkenal di tanah air, Vitta
mengaku tidak begitu
mengenal band itu
maupun vokalisnya.
”Makanya, meski orang-
orang di rumah heboh
karena saya kedatangan
tamu seorang Ari Lasso,
penyanyi terkenal, saya,
sih, biasa-biasa saja,
he...he...he...,” Vitta
mengenang.
Tak hanya Vitta yang
masih punya pacar. Ari
pun sebenarnya tidak
sedang jomblo. Tapi,
entah kenapa, sejak
bertemu gadis cantik
berkulit kuning langsat
dan bermata indah itu, ia
langsung bertekuk lutut.
Putri keempat dari tujuh
bersaudara dari pasangan
Taufik Hadi dan Ruswiati
Suryosaputra ini seakan
terus menempel di
pelupuk matanya. Sejak
pertemuan pertama di
kampus, ia kasak-kusuk
mencari alamat rumah
gadis itu. Beruntung,
senyum manis Vitta terus
mengulum sejak ia
datang ke rumahnya
hingga pamit pulang.
Dua hari kemudian, Ari
datang lagi dengan
membawa seliter es krim.
“Saking keasyikan
ngobrol, tahu-tahu sudah
pukul 9 malam. Dan,
tanpa disadari, seliter es
krim yang dia bawa
sudah ludes. Dari
pembicaraannya, terlihat
sekali kalau Ari sangat
hobi membaca. Meski
saya juga hobi baca,
bacaan saya tidak
sebanyak dia,” ujar Vitta,
kagum.
BERJUANG
MENAKLUKKAN HATI
ORANG TUA
Pada awalnya, Vitta hanya
sekadar senang bergaul
dengan Ari. ”Tapi, lama-
kelamaan, kok, ada
perasaan klik. ‘Nah, ini dia
jodoh saya!’ Meski lahir
dari keluarga yang cukup
berada, ia mendapatkan
rupiah demi rupiah dari
keringatnya sendiri. Dia
juga sangat cool, periang,
dan menyenangkan. Dia
bisa membuat saya
tertawa sekaligus
terlindungi,” ujar Vitta,
ekspresif.
Di pihak lain, Ari makin
tertarik pada Vitta, justru
karena gadis itu bukan
fans-nya. ”Saya tidak
ingin cinta yang hanya
karena kekaguman sesaat,
bukan karena saya
seorang penyanyi atau
public figure. Kalau hanya
berdasarkan kekaguman,
saya khawatir cintanya
tidak akan langgeng,” Ari
menimpali.
Awalnya, Vitta tidak tahu
bahwa Ari adalah
pecandu putaw. ”Tapi,
ketika akhirnya saya tahu,
saya sudah telanjur
mencintainya,” Vitta
berterus terang. Masa
pacaran itu makin terasa
mengasyikkan ketika Ari
pindah ke Jakarta.
Pertemuan yang hanya
sesekali itu justru
memunculkan keindahan
dan kerinduan tersendiri.
Sampai sejauh itu, kedua
orang tua mereka tampak
tenang-tenang saja. Tapi,
ketika mereka
menyatakan ingin
menikah, barulah
hambatan itu mulai
muncul. Maklum,
keduanya berbeda
keyakinan. Yang paling
menentang adalah kedua
orang tua Vitta. Apalagi,
mereka akhirnya tahu
juga bahwa Ari adalah
pecandu narkoba. ”Tapi,
kami sudah saling cinta
banget, rasanya tidak
mungkin bisa dipisahkan
lagi. Apa boleh buat,
meski bebannya sangat
berat, kami ngotot
melanjutkan hubungan.”
Berbagai usaha sudah
mereka lakukan berdua,
tapi sejauh itu belum
membuahkan hasil. Sikap
Vitta jelas. Ia tidak ingin
menikah dengan lelaki
mana pun, kecuali Ari.
Namun, ia juga tidak akan
menikah kalau kedua
orang tuanya tidak
merestui.
Meski Ari terus
menunjukkan
kesungguhannya, orang
tua Vitta bersikukuh tak
merestui. Bahkan, ketika
Ari datang melamar pun
tetap ditolak. Kedua
muda-mudi yang
dimabuk asmara itu pun
akhirnya mengambil jalan
pintas. Hasilnya, mudah
ditebak, Vitta hamil.
Kali ini, barulah kedua
orang tua Vitta mengalah
dan akhirnya merestui
perkawinan Vitta dengan
Ari. Itu pun ketika usia
kehamil-an putrinya
sudah delapan bulan.
Pada 4 Februari 1999,
pasangan muda ini
akhirnya dinikahkan oleh
Pendeta Ratna di GKJW
(Gereja Kristen Jawi
Wetan) Waru, Surabaya.
Sebulan kemudian (12
Maret 1999), anak
pertama mereka, Aura
Maharani, lahir. ”Saya dan
Ari sepakat, hal ini tidak
akan pernah kami tutup-
tutupi, termasuk kepada
Aura kelak, karena semua
ini kami lakukan dengan
penuh kesadaran,” ujar
Vitta, tersenyum.
BANGKIT PELAN-PELAN
Sehari sebelum istrinya
melahirkan, Ari mendapat
telepon dari Iin, bos
Aquarius Musikindo
Record. ”Ri, mau tidak
kamu duet bersama Melly
Goeslaw?” tanya Iin.
Ditodong pertanyaan
seperti itu, ia malah
kebingungan. ”Apa saya
bisa cocok berduet
dengan Melly?” Ari justru
balik bertanya.
Belakangan, ia mengakui,
pada masa-masa itu rasa
percaya dirinya sedang
benar-benar anjlok.
Ari pun berangkat ke
Jakarta untuk rekaman
bersama Melly. Tapi, lagi-
lagi Iin dibuat sport
jantung. Soalnya, baru
pukul 7 malam Ari tiba di
kantor Aquarius, padahal
seharusnya pagi atau
siang. Iin memberi uang
sekadarnya untuk makan
dan naik taksi, lalu Ari
berangkat ke studio
rekaman. Pada saat yang
sama, Iin menelepon
Melly, yang sudah sejak
sore menunggu
kedatangan Ari di studio.
Ia mengabarkan bahwa
Ari sudah datang dan
sedang menuju ke studio.
Apa yang terjadi? Sampai
detik-detik terakhir jadwal
rekaman pukul 10 malam,
Ari belum juga datang.
Seharusnya perjalanan
dari kantor Aquarius
hanya memakan waktu
sekitar 10 menit. Dengan
gusar, Melly menelepon
Iin, ”Kita jadi rekaman
nggak, sih?”
Iin tentu saja sangat
marah melihat kelakuan
Ari yang tak kunjung
berubah. Tapi, Iin tidak
bisa berbuat apa-apa,
karena saat itu Ari belum
punya telepon genggam.
Untunglah, tak lama
kemudian Ari muncul di
studio dan menjalani
rekaman sampai selesai.
Beberapa bulan
kemudian, saat album
tersebut akan
dipromosikan di sebuah
stasiun TV, lagi-lagi
jantung Iin nyaris copot.
Sekitar lima menit
sebelum kereta berangkat
ke Jakarta, Ari baru
nongol di Stasiun Pasar
Turi, Surabaya. Padahal,
tiketnya didapat dengan
susah payah karena
masih dalam masa
Lebaran. Di Jakarta pun
Ari berulah lagi. Ia baru
muncul hanya beberapa
menit menjelang tampil di
panggung bersama Melly.
Untunglah, promosi
album bertajuk Jika itu
sukses besar dan terjual
hingga ratusan ribu copy.

No comments:

Post a Comment