Oct 22, 2009

Perjalanan Panjang Ari Lasso - Part 4

MASA-MASA
TERGELAP DALAM
CENGKERAMAN
NARKOBA
Kuliah kandas, percintaan
gagal, ditendang dari
dewa, jatuh miskin, dan
kembali beban orangtua.
Ia merasa satu-satunya
jalan keluar adalah...
bunuh diri!
Meski awalnya putaw bisa
memacu keberanian dan
adrenalinnya saat di
panggung maupun di
studio rekaman, perlahan-
lahan barang laknat itu
mulai memperlihatkan
wajah sebenarnya. Selain
tubuh dan batinnya makin
rusak, sikap
profesionalnya dalam
bermusik pun kian
hancur. Selain jadwal
rekaman acap kali
tertunda, Dewa 19 juga
pernah gagal manggung
di Lampung (1997) gara-
gara Ari sibuk ‘belanja’
putaw dulu untuk bekal ke
Lampung, sehingga
akhirnya ia ke–tinggalan
pesawat. Dewa juga
pernah urung manggung
di Manado, karena suara
Ari tak keluar.
Perlahan-lahan, mulai
timbul konflik antara Ari
dan Dhani. Ke–tika makin
runcing, produser mereka
–Arie Suwardi Widjaja
dari PT Aquarius
Musikindo—terpaksa
turun tangan. ”Makin hari,
pertikaian mereka makin
sengit. Rasanya tidak
mungkin lagi
dipersatukan,” ujar pria
yang akrab dipanggil Pak
Iin ini.
Iin bercerita, saat itu Ari
pernah mengatakan
bahwa dia ingin sembuh.
Ia kemudian menghilang
beberapa lama dari Dewa
untuk menjalani
penyembuhan. Usaha itu
didukung oleh semua
pihak. Bahkan, Dhani rela
memvakumkan Dewa
dari semua kegiatan demi
memberi kesempatan
pada Ari untuk berobat.
Suatu hari di tahun 1995,
Iin bertemu lagi dengan
Ari di Yogya. Ia senang
sekali melihat keadaan Ari
yang tampak bugar.
Tubuh dan wajahnya
tampak berisi dan cara
bicaranya lancar. Kepada
Iin, Ari menyampaikan
niatnya untuk mundur
dari Dewa 19, karena
merasa tidak enak hati
pada rekan-rekan
segrupnya. ”Saya ingin
bersolo karier. Bisa nggak,
ya?” Ari meminta
pertimbangan.
Tapi, semua itu ternyata
hanya tinggal niat. Berkali-
kali meng–ikuti program
penyembuhan, berulang
kali pula ia terjerumus
kembali. Akibatnya,
album kelima Dewa
(1999) tak pernah
terselesaikan. Ari yang
berdomisili di Surabaya
selalu ‘hilang-timbul’,
entah pergi ke mana.
Dhani yang sudah bekerja
keras menyiapkan lagu
dan mengatur jadwal
rekaman, akhirnya patah
arang. ”Ya, sudah,
mendingan Dewa ganti
formasi saja,” ujar Dhani,
dalam nada tinggi.
Tapi, Iin masih belum
menyerah. Karena sulit
menyatukan keinginan
mereka, diputuskan
mereka tetap rekaman
dengan formasi Dewa 19
yang lama, tapi hanya
berisi kumpulan lagu
terbaik mereka (Best
Dewa), dan Ari tetap
tampil sebagai penyanyi.
Pada saat proses
pembuatan rekaman
itulah Iin menyaksikan
betapa hubungan Dhani
dengan Ari sudah sangat
rawan. Saat itu, Dhani
bahkan sudah ogah
melihat tampang Ari lagi.
Saat dihubungi Iin, Ari
yang saat itu di Surabaya,
menyanggupi datang ke
Jakarta saat jadwal
rekaman tiba. Tapi, saat
Ari datang ke studio,
ternyata Dhani sudah
pulang. Iin langsung
menelepon Dhani. Tapi,
Dhani malah meledak,
”Janjinya jam berapa dan
datangnya jam berapa?
Karena molor-nya
kelamaan, ya, saya
tinggal!”
Kesabaran Dhani
memang akhirnya habis
sudah. Apalagi, saat itu ia
sudah mendapatkan
vokalis baru, Onche.
“Banyak pihak yang harus
saya pikirkan.
Sebenarnya, sudah sejak
lama Ari ingin keluar, tapi
selalu kami tahan karena
kami masih ingin melihat
dia sembuh. Tapi,
akhirnya saya harus
mengambil sikap tegas.
Tahun 1999, Ari kami
keluarkan dari Dewa 19!”
MEMUTUSKAN UNTUK
MATI
Sesungguhnya kehidupan
Ari saat itu sudah sangat
mapan. Uangnya
melimpah ruah. Tapi,
semua hasil jerih
payahnya itu ludes tanpa
bekas gara-gara putaw.
Menurut Ari, puncak
kehancurannya terjadi
pada tahun 1998-1999.
”Hidup saya benar-benar
hancur-hancuran. Hampir
setiap hari saya harus
berbohong dan berutang
agar bisa mendapatkan
obat itu.”
Iin hanya bisa
memandangi Ari dengan
tatapan memelas. ”Ja–
ngankan naik mobil
pribadi, untuk naik taksi ke
studio pun ia tidak punya
uang. Akhirnya, saya beri
dia uang sekadarnya
untuk naik bus kota.
Pokoknya, dia kere betul.”
Iin memang harus
menegakan diri
menghadapi Ari yang
sudah dianggapnya adik
itu. ”Meski Ari masih
punya hak beberapa juta
dari Aquarius, sebisa
mungkin uang itu saya
tahan. Kalau saya berikan,
berapa pun jumlahnya,
pasti langsung ludes
untuk beli putaw,” Iin
mengeluh.
Karena tak punya uang
lagi untuk beli putaw, Ari
pun nekat mencuri uang
dan harta benda orang
tuanya. “Semua perhiasan
Mama habis saya jual. Itu
pun dengan harga
seadanya, pokoknya asal
ada yang mau beli,” ujar
pria yang sudah 12 kali
menjalani rehabilitasi, tapi
selalu terperosok lagi.
Ia pun putus asa dan
gelap mata, ketika suatu
hari berbagai beban
kehidupan menderanya
serentak. Kuliahnya di
Universitas Airlangga
kandas, percintaannya
gagal, ‘ditendang’ dari
Dewa, terpuruk dalam
kemiskinan, dan dirinya
kembali menjadi beban
orang tua. Pikiran–nya
pun mendadak menjadi
kalut. Ia merasa, satu-
satunya cara untuk
melepaskan diri dari
impitan itu hanyalah
kematian.
Malam itu rumahnya
tengah kosong. Kedua
orang tuanya sedang
pergi ke luar kota. Tekad
Ari untuk meninggalkan
dunia fana ini sudah bulat.
Ia menulis surat kepada
kedua orang tua dan
kakak-kakaknya. Selain
mohon pamit, ia juga
memohon maaf atas
segala dosa yang telah
diperbuatnya.
Kali ini, ia tidak hanya
menyuntikkan satu
setengah gram heroin,
namun juga menenggak
sebotol Johnny Walker
dan 38 butir dumolit.
”Dengan cara itu, konon
mati saya akan terasa
nikmat sekali. Saya akan
tertidur pulas dulu dan
baru setelah itu gagal
napas,” Ari mengenang
dengan nada kecut.
Tapi, Tuhan ternyata
masih ingin melihat Ari
menikmati dunia. Ritual
kematian yang
dilakukannya pada Senin
dini hari tersebut, berakhir
Selasa siang. Perlahan-
lahan Ari mulai terbangun
dari tidur panjangnya.
Matanya perlahan
mengamati sekeliling
ruangan. Ia masih di
tempat yang sama.
Cahaya pun masih tajam
di matanya. Ia baru sadar,
usaha bunuh dirinya
ternyata gagal total!

No comments:

Post a Comment