Oct 22, 2009

Perjalanan Panjang Ari Lasso - Part 2

Ketika naik ke kelas 4 SD,
Ari terpaksa berpisah dari
teman-teman main sepak
bolanya. Ia harus
mengikuti ayahnya yang
pindah tugas ke
Bojonegoro. Baru dua
tahun di sana, ia pindah
lagi ke Surabaya. Setelah
lulus SD, ia melanjutkan
ke SMP Negeri I2, yang
merupakan salah satu
SMP favorit di Surabaya.
Bahkan, ia berhasil
menjadi salah satu lulusan
terbaik. Selanjutnya, ia
melanjutkan ke SMA
Negeri 2, yang dikenal
sebagai surga anak-anak
band. Saat itu, ia memang
mulai tergila-gila pada
musik.
MEWARISI BAKAT IBU
Dalam buku Kamus Besar
Bahasa Indonesia, kata ari
berarti adik. Ari memang
adinda tersayang bagi
keempat kakaknya,
Prinanti Hanifa, Dwindata
Femdika, Trioni Alfianus
(Onny), dan Niken
Kristiana. Bernardus
adalah nama opa buyut
Ari yang berdarah Toraja.
Adapun Lasso adalah
nama panggilan bagi anak
laki-laki dari keluarga
terpandang di daerah
Toraja.
Srie, sang ibu, tidak
pernah mengira kalau
anak bungsunya itu bakal
mengikuti jejaknya
sebagai penyanyi. Wanita
kelahiran Banyuwangi itu
dulunya memang
seorang penyanyi yang
cukup terkenal di
daerahnya. Ia terlahir dari
keluarga musisi. Orang
tua dan saudara-
saudaranya juga memiliki
suara merdu dan pintar
main musik. Salah satu
kerabat dekatnya adalah
Emilia Contessa, penyanyi
terkenal tahun 1970-an,
yang juga berasal dari
Banyuwangi.
Ari mulai tertarik pada
musik saat duduk di kelas
2 SD. Namun, yang akrab
di telinganya saat itu
justru lagu-lagu dari
kelompok Queen, Rolling
Stones, The Police, Rod
Stewart, John Denver, dan
sebagainya, yang sering
diputar kakak-kakaknya.
Berbeda dari kebanyakan
anak-anak lain yang
umumnya bercita-cita jadi
dokter, insinyur, atau
tentara, sejak awal ia
justru sudah menanam
cita-cita jadi penyanyi.
Obsesinya adalah tampil
menyanyi di lapangan
sepak bola dan ditonton
oleh puluhan bah–kan
ratusan ribu orang.
Padahal, saat itu ia tak bisa
memainkan alat musik
apa pun. Belakangan, ia
belajar main gitar sendiri.
Hasilnya pun hanya
sekadar bisa. Ia lebih
banyak melatih vokalnya,
biasanya sembari
mengunci diri di kamar.
Sambil mendengarkan
lagu-lagu rock Barat
kesayangannya dari kaset,
ia lantas berteriak-teriak
sendiri.
Cita-citanya jadi penyanyi
mulai menemukan jalan
saat ia duduk di SMA. Di
sinilah ia mencurahkan
hampir seluruh waktunya
untuk menekuni musik,
sembari menekuni
hobinya yang lain,
mendaki gunung. Namun,
tanpa dia sadari,
keasyikannya berada di
luar rumah perlahan-lahan
menggiringnya ke
kehidupan yang membuat
prihatin keluarganya.
Selain jarang pulang dan
hubungan dengan kedua
orang tuanya makin
renggang, Ari juga jadi
malas belajar, sehingga
prestasinya di sekolah
merosot tajam. Nilai-
nilainya sangat jeblok.
Kesadarannya baru
terbangun seminggu
menjelang ujian akhir.
”Selama tiga tahun di
SMA, hanya seminggu
itulah saya belajar
beneran,” ujar Ari,
tertawa. ”Waktu itu, target
saya hanya satu, yaitu
bisa masuk perguruan
tinggi negeri untuk
menyenangkan orang
tua,” katanya. Hasilnya?
Bukan saja ia berhasil lulus
SMA dengan angka
lumayan, tapi juga
berhasil menembus
Fakultas Ekonomi
Universitas Airlangga,
perguruan tinggi negeri
kebanggaan Jawa Timur.
Di SMAN 2 ini pula Ari
berkenalan dengan para
penggila musik di
sekolahnya, seperti Dhani
Ahmad, Piyu (gitaris
PADI), Wawan Juniarso
(drummer Dewa pertama)
, Erwin Prasetya, dan
Andra Junaidi. Saat itu,
Dhani sudah cukup
menonjol di kalangan
pemusik muda Surabaya,
dan sudah mendirikan
‘Dewa’. Tapi, anehnya,
Dhani tak tertarik
mengajak Ari yang
bersuara tinggi nge-rock
itu untuk bergabung
dalam band-nya. Kenapa?
”Jenis musik kesukaan
kami berbeda,” papar
Dhani, lugas. ”Ari lebih
mengarah pada pop rock
dan menyukai Bon Jovi,
sedangkan band favoritku
Queen yang classic rock.
Tapi, kami sama-sama
suka Chicago. Meski
begitu, kami tetap
berteman, kok, dan sering
nongkrong bareng.
Teman-teman Ari juga
teman-teman aku.”
Ari pertama kali
membentuk band dengan
Piyu dan Wawan. Mereka
membentuk Outsider
Band. Ia kemudian
direkrut oleh Los Angeles
Band, cikal bakal
Boomerang, sebuah band
beraliran rock yang
lumayan beken di
kalangan anak muda.
Sayang, band itu akhirnya
layu sebelum
berkembang.
BERGABUNG DENGAN
DEWA 19
Baru di tahun 1990, saat
sama-sama duduk di
kelas 3 SMA, Dhani
Ahmad mengajaknya
bergabung. Ini di luar
dugaan Ari, karena selama
ini selera musik mereka
berdua kurang sejalan.
Rupanya, ada satu
momentum yang
akhirnya membuat Dhani
‘jatuh hati’ pada Ari. Dhani
mengaku sangat terkesan
saat Ari menyanyikan lagu
Chicago, Hard to Say I’m
Sorry. Saat itu Dhani juga
sedang berencana
mengubah format band
yang dipimpinnya saat itu,
Down Beat Band, dan
menggantikan
penyanyinya yang wanita
dengan penyanyi laki-laki.
Ari pun direkrut sebagai
vokalis baru Down Beat
Band .
Setelah itu, Dhani bersama
Erwin, Wawan, Andra,
dan Ari sepakat untuk
menghidupkan kembali
band Dewa yang pernah
mereka dirikan saat masih
sama-sama duduk di SMP
(1987). Nama Dewa
diambil dari huruf depan
para personelnya. Karena
nama depan Ari juga
diawali huruf ‘A’, mereka
tak perlu mengubah nama
band. Selanjutnya,
mereka sepakat
menambahkan ‘19’,
karena di tahun 1991 itu,
saat menyatu dalam
Dewa, umur kelimanya
sama-sama 19 tahun.
Maka, lahirlah kelompok
band Dewa 19.
Saat setahun kemudian,
Dewa 19 meluncurkan
album perdananya,
industri musik Indonesia
sedang didominasi
kelompok Slank, Java Jive,
Gigi, KLA Project, juga
Kahitna. Di tengah band-
band besar yang merajai
pasar, album pertama
Dewa 19 yang berjudul
Kangen (Ku Kan Datang)
ternyata berhasil terjual
300.000 keping, bahkan
berhasil meraih BASF
Award 1993 sebagai
album terlaris.
Kunci sukses album
pertama Dewa 19 itu tentu
tidak lepas dari suara
merdu Ari. ”Ari memiliki
suara yang sangat merdu
dan khas,” puji Dhani
Ahmad. Kesuksesan ini
memuluskan jalan arek-
arek Suroboyo ini untuk
melangkah ke album-
album selanjutnya. Tahun
1992 mereka kembali
meluncurkan album
kedua, Format Masa
Depan. Sama dengan
yang pertama, album ini
juga tak kalah meledak,
dalam waktu relatif singkat
terjual 500.000 keping.
Sebagai band yang masih
bau kencur, keberhasilan
Dewa 19 memang
tergolong luar biasa.
Selanjutnya adalah sebuah
cerita sukses. Mereka
sibuk manggung di
berbagai kota di seluruh
penjuru tanah air. Dan,
nama Ari Lasso pun ikut
melambung seiring
dengan melejitnya nama
Dewa 19. Ia kini sudah
menjadi selebriti.

0 comments:

Post a Comment