Oct 22, 2009

Perjalanan Panjang Ari Lasso - Part 6

Setelah itu, undangan
manggung membanjir
bagi Melly dan Ari. Tapi,
ada yang jauh lebih
penting. Penampilan
pertama yang sukses di
luar Dewa 19 itu juga
sangat berperan
membantu pemulihan
jiwa Ari, termasuk rasa
percaya dirinya.
Album pertama ini juga
sekaligus menjadi ajang
unjuk kemampuan Ari
sebagai pencipta lagu.
Sebelas tahun bernaung
di bawah panji Dewa, Ari
hanya mampu
melahirkan dua lagu (Satu
Sisi dan Aku Milikmu),
sehingga ia nyaris tak
pernah dikenal sebagai
pencipta lagu. Sejak
bersolo karier, dengan
kemampuan bermain
gitar ala kadarnya, ia
mampu menciptakan
beberapa lagu hit. Antara
lain, Yang Terbaik,
Perjalanan Panjang,
Belahan Jiwa, Hampa, dan
sebagainya.
Sebagai penyanyi, hingga
kini Ari sudah melempar
12 album (5 album
bersama Dewa 19, 2
album bersama Melly
Goeslaw, dan 4 album
solo). Album terbarunya
yang baru dirilis Juli lalu,
berisi kumpulan lagu
terbaiknya, plus empat
lagu baru. Dalam empat
album solonya, Sendiri
Dulu (2001),
Keseimbangan (2003),
Kulihat-Kudengar-Kurasa
(2005), dan Selalu Ada
(2006), ia juga mencoba
menghilangkan image-
nya sebagai vokalis Dewa
yang beraliran semi-rock,
dan menciptakan citra
baru sebagai penyanyi
pop melankolis.
MASA-MASA KRITIS
AKHIRNYA BERLALU
Setelah Ari sukses berduet
dengan Melly, Iin mulai
menyiapkan kembali
proses pembuatan album
solo Ari yang lama
terbengkalai. Bagi Iin,
produksi album ini sangat
melelahkan dan sekaligus
menjengkelkan karena Iin
harus menghadapi para
pecandu drugs. ”Saya
menghadapi anak-anak
dari geng ’gila’ semua,”
keluh Iin.
Meski sudah berjanji
setulus hati di depan
ibunya yang tengah
meregang nyawa, serta
sudah menikah dan
punya anak, Ari memang
belum bisa sepenuhnya
lepas dari obat-obat
terlarang itu. ”Tapi, meski
ogah-ogahan rekaman,
saya harus tetap
menyanyi dan
manggung, agar bisa
menghidupi anak-istri,”
ujarnya, polos.
Ari beruntung memiliki
bos sebaik Iin. Dalam
menangani Ari, berbagai
perasaan berkecamuk di
hati Iin. Mulai dari rasa
sayang, kasihan, sedih,
marah, kesal, sampai
hilang kesabaran, lebih-
lebih setiap kali ia
didatangi orang-orang
yang menagih utang Ari.
Padahal, jangankan Iin,
keluarganya pun nyaris
angkat tangan
menghadapi Ari.
Meskipun begitu, Iin
belum menyerah. Saat itu
ia sama sekali tak
berperan sebagai
produser Ari, melainkan
sebagai sahabat dan
kakak. ”Saya akan bantu
kamu sebisanya. Ayo, kita
tunjukkan pada semua
orang bahwa kamu bisa
sembuh dan mereka
salah menilai kamu!”
Ari menyetujui program
yang direncanakan Iin.
Apalagi, ia pernah berjanji
kepada almarhum ibunya,
yang hingga saat itu
belum juga dipenuhi.
Sekeluarnya dari rumah
sakit untuk detoksifikasi, ia
menjalani pengasingan
selama 6 bulan di sebuah
apartemen yang sudah
disiapkan Iin. Ia tidak
boleh menerima tamu
atau telepon dari siapa
pun, termasuk dari Vitta,
tanpa seizin Iin.
Ari mengakui, inilah saat-
saat paling berat dalam
hidupnya. Selain harus
sekuat tenaga menahan
godaan untuk terus
menancapkan jarum-
jarum setan itu, yang tak
kalah berat adalah
meyakinkan Vitta. ”Vitta
selalu beranggapan
perpisahan itu adalah awal
perpisahan yang
sesungguhnya,” kenang
Ari, yang terakhir kali
menggunakan putaw
pada 30 April 2001.
Selama ia dikarantina dan
Vitta dipulangkan ke
Surabaya untuk
sementara, Ari mengaku
hubungannya dengan
sang istri buruk sekali.
Kalau tak menangis, Vitta
setiap hari marah-marah.
”Di lain pihak, kondisi
mental saya juga masih
labil, sedangkan Vitta
terkesan sangat kekanak-
kanakan. Akibatnya, setiap
kali bertemu kami
berantem.”
Vitta mengakui, sejak
menikah dan melahirkan
anak pertama, ia menjadi
sangat khawatir ditinggal
Ari. Maklum, ia
memendam pengalaman
menyakitkan menyangkut
sejarah keluarga
besarnya, sehingga
pernah tebersit keinginan
untuk tidak akan menikah.
”Pengalaman buruk itu
menjadikan saya sulit
percaya pada semua pria,
termasuk pada Ari yang
sudah menjadi suami
saya. Saya sangat
khawatir bakal ditinggal
kawin lagi oleh Ari, dan
perkawinan kami kandas
di tengah jalan,” ujar Vitta,
lirih.
Usai terapi pengasingan,
Ari pun memboyong
Vitta dan putrinya kembali
ke Jakarta. Selama
beberapa bulan, ketiganya
tinggal berpindah-pindah
di wilayah Jabotabek. Ari
harus memulai
kehidupannya dari nol
lagi. Mereka pernah
tinggal di rumah paman
Ari di Bekasi, kemudian
pindah ke rumah
temannya yang biasa
dijadikan markas band,
lalu pindah lagi ke kantor
Aquarius. Saat tinggal di
kantor itu, Ari tidur di
kursi tamu bersama
seorang pesuruh kantor.
Pada November 2001 Ari
akhirnya mampu
mengontrak rumah di
Jalan Kenari, lalu pindah ke
daerah Bintaro. Ada
pengalaman menggelikan
saat tinggal di Bintaro.
Suatu hari, karena belum
mampu membeli telepon
genggam baru, ia
membeli yang bekas.
Celakanya, masih banyak
pesan ‘aneh-aneh’ yang
tersimpan di di dalamnya.
Salah satunya adalah
pesan singkat berbunyi, ”I
love your massage.”
Saat Vitta membaca
pesan itu, ia langsung naik
pitam. Perang pun tak
terhindarkan. Hampir dua
jam keduanya bertengkar
sengit, sampai-sampai Ari
membanting botol yang
berada di depannya.
”Sungguh masa-masa
yang sangat melelahkan,”
Ari tersenyum
mengenang masa-masa
kritis rumah tangganya.
Selain belum punya
rumah sendiri dan ke
mana-mana naik
kendaraan umum, kondisi
psikis Vitta masih rawan.
Apalagi, anak kedua
mereka yang masih bayi,
Michael, kemudian
meninggal dunia.
Akhirnya, pelan-pelan Ari
berhasil juga meyakinkan
Vitta. Meski dianggap
artis, ia tak pernah
keluyuran ke diskotek atau
kafe, selain untuk
menyanyi. “Saya
memang tergolong artis
ndeso, karena tidak kenal
dunia glamor atau
dugem. Kalau tidak
rekaman atau manggung,
saya lebih banyak di
rumah atau pergi
bersama keluarga.”
Seiring berjalannya
waktu, hati Vitta mulai
tenang. Kebahagiaan
pasangan ini makin
lengkap setelah lahir anak
ketiga, Audra Anandita,
dan disusul anak
keempat, Abraham Lasso.
Selain itu, sejak Ari
berhenti sebagai pecandu
putaw, rezekinya bagai
hujan dari langit. Kurang
dari lima tahun setelah
bersolo karier, Ari sudah
mampu membeli
sebidang tanah dan
rumah di pojok Jalan
Camar, Bintaro, yang
lumayan luas.
Bangunan yang lama
dirobohkan, dan
kemudian dibangun lagi
sesuai seleranya. Kini,
jadilah sebuah bangunan
minimalis gaya Eropa
berlantai dua, lengkap
dengan kolam renang di
samping rumahnya. Buah
manis dari perjuangan
panjang yang sangat
menyakitkan, melelahkan,
dan menguras kesabaran.
Tamat

No comments:

Post a Comment