Menjadi terkenal tiba-tiba
membuat hidupnya
limbung. Ia makin
tenggelam dalam
cengkeraman narkoba
yang sudah menjeratnya
sejak di SMA. Dalam
keputusasaan, ia bahkan
sempat mencoba bunuh
diri.
Tanggal 22 Desember
2000. Seorang pria muda
kurus kering berwajah
sayu dan berambut
gondrong semrawut,
duduk bersimbah duka di
samping tempat tidur
sebuah rumah di
Kompleks Perumahan
Delta Indah Sari,
Surabaya. Sambil terus
berdoa, Ari Lasso, pria
berpakaian kumal dan
baru saja turun dari kereta
api dari Jakarta itu, terus
memegangi tangan
ibundanya yang sudah
sembilan hari mengalami
koma.
Wanita tua yang tengah
meregang nyawa itu
terbaring lunglai tanpa
daya. Meski tak dapat
bergerak dan bicara sedikit
pun, sesekali kedua sudut
matanya basah oleh air
mata. Menyaksikan ibunya
terbaring tak berdaya di
detik-detik terakhir
hidupnya, ditambah luka
hati yang begitu dalam
memikirkan nasib anak
bungsunya, tangis Ari
pun pecah. Tersedu-sedu,
tersengal-sengal.
Dengan suara terbata-
bata, ia pun mengucapkan
janji di telinga ibunya.
”Ma…, Ari janji pada
Mama bahwa Ari akan
sembuh. Mama tidak usah
memikirkan Ari lagi. Papa
dan semua anak-anak
Mama sudah ikhlas kalau
Mama ingin berangkat
sekarang....”
Bagi Ari, detik-detik
penantian kepergian
wanita yang telah
melahirkan dan
membesarkannya dengan
penuh kasih sayang itu
adalah detik-detik
penentuan ’kelahiran’ atau
justru ’kematiannya’. Ya,
itulah detik-detik kalkulasi
sikapnya, apakah akan
hidup terus dan menjadi
penyanyi seperti yang
diimpikannya sejak bocah,
atau mati tanpa arti
dengan jarum-jarum
menancap ke sekujur
tubuhnya.
NARKOBA MENGUBAH
SEGALANYA
Suksesnya album-album
Dewa 19 makin
mendekatkan hubungan
Ari Lasso dan Ahmad
Dhani. Menurut Dhani,
banyak faktor yang
membuat
persahabatannya dengan
Ari bertahan hingga saat
ini. “Dari segi sifat, Ari dan
aku sangat cocok,
sehingga pertemanan
kami sangat awet,” papar
Dhani, di studionya yang
menyatu dengan
rumahnya di daerah
Pondok Indah, Jakarta
Selatan. “Sifat Ari tidak
dominan, sementara aku
sangat dominan. Selain
itu, aku dan dia sama-
sama sangat religius dan
sama-sama hobi baca
buku, sehingga pemikiran
kami selalu nyambung,”
tambahnya.
Meski tak terlalu rajin ke
gereja (karena sangat jauh
dari rumahnya), Ari
dibesarkan di tengah
lingkungan keluarga
Kristiani yang cukup
religius. Tapi, sejak mulai
masuk SMA, ketaatannya
pada agama mulai lumer.
Hal itu juga tak luput dari
pengamatan sang ayah,
Bernard, yang mengaku
sangat prihatin melihat
perkembangan putra
bungsunya itu. Pada hari
Natal yang seharusnya
merupakan saat
berkumpul terindah
bersama semua anggota
keluarga, Ari justru kabur
ke gunung. Ada saja
alasannya untuk pergi dari
rumah.
Ari tidak menyangkal hal
itu. Ia mengakui, sejak
masuk SMA,
kenakalannya memang
makin menjadi-jadi. Selain
menjadi anak yang sulit
diatur dan suka
berbohong, ia juga sering
tidak pulang. Kalau tidak
naik gunung, ia berlatih
musik selama berhari-hari
di rumah teman-
temannya. ”Tapi, minta
izinnya, sih, mau belajar
di rumah teman,
he...he...he...,” ujarnya,
tergelak
Seperti anak muda pada
umumnya, rasa ingin
tahunya dalam berbagai
hal sangat tinggi.
”Padahal, untuk
mengetahui tentang
sesuatu, kita ’kan harus
mencoba lebih dulu,” ujar
Ari, terkekeh. ”Untuk
mengerti tentang
pengaruh ganja,
misalnya, saya kan harus
nyobain dulu. Dari coba-
coba itulah akhirnya saya
jadi kecanduan.”
Ari juga diam-diam
mempraktikkan berbagai
percobaan tentang ilmu
‘permabukan’. Ia tidak
hanya mencampur bir
dengan soft drink, tapi
juga dengan berbagai
jenis minuman keras lain.
Ia bahkan mulai mengenal
berbagai jenis obat
terlarang. Ia mengakui,
sejak masuk SMA
kehidupannya mulai liar.
Hampir setiap malam
Minggu dia mabuk
bersama teman-teman
se-geng-nya.
Namun, sejauh itu Ari
merasa masih bisa
mengendalikan diri dan
emosinya. Setidaknya, ia
yakin tidak bakal
kecanduan. Keyakinan diri
yang kelewat kuat itulah
yang akhirnya
membuahkan malapetaka
berkepanjangan. Karena
merasa sudah terbiasa
mabuk, Ari mengiyakan
saja saat ia ditawari
mencicipi putaw oleh
salah seorang personel
band Slank, yang
menyebutnya sebagai
‘barang baru’ yang luar
biasa mengasyikkan.
Ternyata dia salah besar.
Tanpa benar-benar
disadari, tahu-tahu dia
sudah tenggelam begitu
jauh. ”Saya itu aslinya
anak kuper,” Ari berterus
terang. ”Saya tak punya
banyak teman sehingga
saya lebih suka
menyendiri. Putaw
membuat saya bisa
bersembunyi dari publik.”
Delapan bulan kemudian,
barulah dia sadar bahwa
dirinya kecanduan berat.
Tepatnya, pada Mei 1994.
Waktu itu ia sedang
pulang ke Surabaya.
Karena tak mengonsumsi
putaw seharian,
mendadak ia sulit sekali
tidur. Padahal, saat itu
untuk mendapatkan
putaw di Surabaya masih
sangat sulit. Karena sudah
tak tahan lagi, esok
paginya ia langsung
kembali ke Jakarta, agar
bisa secepatnya
mendapatkan putaw.
Di saat yang sama, Dewa
19 sedang
mempersiapkan album
ketiga mereka, Terbaik
Terbaik. Ari mengenang,
saat berada di studio
rekaman, sekujur
tubuhnya tiba-tiba
kedinginan, perutnya
mulas, tenggorokan gatal,
dan ingin muntah-
muntah. Belakangan ia
baru tahu bahwa
begitulah keadaan
seseorang yang sedang
sakaw (putus zat).
Namun, ketika seorang
temannya menawari
putaw, Ari masih sempat
menolaknya. ”Masa mau
rekaman pakai gituan!”
katanya, polos. Ia lantas
minum obat-obatan biasa,
sekadar untuk
meringankan rasa sakit.
Tapi, meski telah minum
beberapa tablet, tidak ada
perubahan sama sekali.
“Akhirnya, saya terima
juga tawaran putaw itu.
Anehnya, tidak lama
kemudian saya langsung
sembuh. Dari situlah saya
menyadari bahwa saya
sudah kecanduan!”
DIPECAT DARI DEWA 19
Srie, ibunda Ari, akhirnya
harus menyerah setelah
hampir dua tahun
berjuang melawan
gerogotan kanker
payudara. Srie akhirnya
tiba di pengujung
kehidupan duniawinya. Di
sisinya, sang suami
terduduk lunglai tanpa
daya.
Sudah terbayang di benak
kakek 10 cucu ini,
bagaimana berat dan
peliknya kehidupan yang
harus ia hadapi ke depan.
Namun, yang paling
memberatkan hatinya
adalah kondisi anak
bungsunya. “Sejak diberi
tahu bahwa Ari menjadi
pecandu putaw, saya
merasa dunia kiamat!”
kenang Bernard dengan
mata menerawang.
Setelah pensiun sebagai
pejabat Perhutani di
Madiun, Bernard dan
istrinya pindah ke
Pekanbaru, Riau, selama
dua tahun. Ia diminta
memimpin salah satu
perusahaan HPH di sana.
Hari masih pagi ketika
Onny --anak sulungnya
yang menetap di Yogya--
tiba-tiba menelepon sang
ayah di kantornya di
Pekanbaru, sekitar akhir
1995. Dengan suara
bergetar dan tersendat-
sendat, Onny
menyampaikan berita itu,
“Pa, Ari kena narkoba....”
Bagai dipukul godam,
pandangan Bernard
mendadak gelap dan
tubuhnya sempoyongan.
Sebagai direktur utama,
jelas ia tidak ingin
musibah yang menimpa
keluarganya itu diketahui
anak buahnya dan
mengganggu tugas-
tugasnya di kantor.
Akhirnya ia memutuskan
keluar kantor dan pergi ke
gereja. Dalam perjalanan,
sambil menyetir mobil, ia
menangis tersedu-sedu.
Semula ia ingin
menumpahkan tangisnya
di gereja yang tidak jauh
dari kantornya. Tapi, niat
itu ia urungkan, karena
khawatir akan
mengundang pertanyaan
orang. Akhirnya, ia hanya
menjalankan mobilnya
tanpa tujuan, dan
akhirnya berhenti di
pinggir sebuah lapangan.
Di situlah ia mencoba
berserah diri dan
memohon pertolongan-
Nya. Tak lama kemudian,
ia dan istrinya
memutuskan kembali ke
Surabaya untuk
mendampingi anak
bungsu mereka.
Oct 22, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment